Minggu, 06 Maret 2016

NUR (ketika prinsip kebenaran bergejolak)

Standard
Oleh : Ade Nur Cahya
        
          Siang itu suasana sangat terik. Nur, anak jalanan yang sudah tampak tegar setelah kepergian kakaknya yang meninggal 3 hari yang lalu karena kangker otak. orang tua Nur sudah tak ada. ayahnya meninggal ketika ia berusia 5 tahun , 2 tahun kemudian ibunya menyusul menuju sang khalik. malamnya, setelah ia bisa memulai lagi senyumnya sambil bermain dengan siti hamster kesayangannya. tiba-tiba terdengar suara gaduh, orang-orang pada berteriak.

            "Larii, ada petugas keamanan kota,".( teriak orang banyak bersahut-sahutan. Uus salah satu teman Nur datang menabrak rumah
kardus yang biasa di tempati Nur bersama kakaknya).

            "Nur ayo lari, nanti kamu tertangkap oleh petugas," (uus sambil menarik tangan Nur untuk keluar dari rumah kardusnya dan membawa pakainnya yang ada di jemuran).

            "Nanti dulu Us," (Nur melepaskan tangannya dari Uus dan mengambil Siti yang sedang asyik mengelupas biji bunga matahari).

            Lalu mereka berlari dengan memanjat tembok pembatas jalanan dan perkebunan warga, dan mereka berdua selamat. Mereka berjalan sambil bergandengan dengan saling menguatkan satu sama lain di antara ketakutan dan kebingungan mereka. Dan mereka memutuskan untuk beristirahat dan mereka berdua menyenderkan badannya di pohon kelapa. Setelah 5 menit mereka sama-sama terdiam, Uus mulai membuka pembicaraan.

            "Mau kemana kita sekarang Nur, kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang," (memandang Nur dengan nafas yang masih terisak-isak kelelahan).

            "keadaan seperti ini memang berat, tapi kita harus selalu percaya pada iman kita us, kita ini berada di jalur yang benar, jangan takut!!, seribu malaikat di utus gusti Allah untuk menjaga kita, hari ini kita tidur di sini saja di bawah pohon kelapa, nanti pertengahan malam kita bangun untuk qiyamul lail, kita harus yakin gusti Allah pasti menolong kita. "

           ( Nur masih berada dalam ketenangannya dan bisa untuk menenangkan Uus, sambil mengelus-elus dan sekali-kali menciumi Siti,  berbicara dalam hati). "semoga sampai kapanpun kita masih bisa tersenyum ya Siti".


                                                              ********************
            setelah mereka shalat qiyamul lail dengan sangat khyusu nya, bertilawah bersama,dan melakukan salat subuh bersama, lalu mereka meminum air kelapa muda dan buahnya yang begitu segar. terpikir di benak Uus untuk mengajak Nur pulang ke rumah orang tuanya di sebrang lautan, tapi mungkin dia harus berpikir lagi karena di desanya tempat ia tinggal sekarang di pimpin oleh seorang raja yang begitu kejam.

            "Nur," (memanggil dengan suara agak pelan dengan wajah yang kebingungan).

            "iya, ada apa Us?" (bicara sambil memandang kelucuan siti, dan sekali menciuminya).

            "Sebenarnya saya masih punya ibu, dia ada di seberang lautan, tapi desa kami di pimpin oleh raja yang begitu kejam, utusan mereka dulu di perintahkan untuk membunuh anak laki-laki yang baru lahir, tapi mereka mendapat perlawanan sekarang oleh kanjeng Nabi yang ia adalah anak angkatnya sendiri, tapi raja malah tambah kejam, ia menyiksa dan membunuh rakyat-rakyatnya yang mengikuti ajaran kanjeng Nabi, makannya saya kabur kesini karena saya berpedoman dan mengikuti ajaran kanjeng Nabi, saya takut nyawa saya terancam".

            Nur dengan sikapnya yang tetap santai dan selalu percaya akan perlindungan gusti Allah mencoba menanggapi cerita Uus dengan tenang.

            "Saya sudah tahu cerita raja yang kejam itu, dan saya juga tahu tentang kanjeng Nabi, saya juga termasuk pengikut kanjeng Nabi. kita tidak perlu takut Us!!, kita berada dalam keimanan yang benar, kanjeng Nabi selalu memberikan pelajaran tentang ke mahaan gusti Allah, gusti Allah maha penyayang, gusti Allah maha penolong, dan gusti Allah maha pemberi petunjuk. Asalkan kita yakin dengan gusti Allah seperti yang telah di ajarkan kanjeng Nabi InsyaAllah kita akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. ayo kita menyebrang lautan melalui perahu nelayan itu, kita minta tolong dengan mereka yang InsyaAllah mereka pengikut kanjeng Nabi juga, kita kerumah orang tua kamu sekarang. tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk hamba gusti Allah dan pengikut kanjeng Nabi us, selama kita yakin itu".

            "Tapi apakah kita tidak sebaiknya melepas atribut kita Nur, membuka penutup rambut kita dan sedikit merobek kain gamis di tangan kita??, itu agar kita lebih aman dari utusan-utusan raja yang begitu kejam itu."

            "Kamu ngomong apa sih Us!!, kalau kamu melakukan itu sama saja kamu bukan hamba gusti Allah dan bukan pengikut kanjeng Nabi. Kamu akan menyengsarakan dirimu sendiri. Ingat itu!!. ya sudah, ayo kita berangkat ke rumah ibumu.  kita harus sudah sampai di sana sebelum waktu dzuhur."

            Dengan nada yang agak sedikit tegas Nur memberikan pengertian ke Uus, Nur memang sudah biasa mandiri sejak kecil, itu mempengaruhi sikapnya yang selalu tenang dan bijak menghadapi segala kondisi sepelik apapun, di tambah keyakinan kepada gusti Allah dan kanjeng Nabi yang kuat di imaninya, serasa ia tidak mempunyai masalah sama sekali. Ia selalu menunjukan sikap tegarnya kepada semua orang meskipun ia sedang di selimuti masalah yang begitu berat, itulah Nur.


                                                            ********************

            sesampainya di seberang lautan di sebuah desa tempat ibu Uus tinggal setelah menumpang perahu milik nelayan. tiba-tiba ada suara tentara berkuda yang terdengar dari jauh di telinga mereka.

            " Nur, itu tentara raja, ayo cepat kita mencari tempat persembunyian, hmm ayo kita ke semak-semak yang lebat itu,".( Uus sambil menarik tangan Nur ke semak-semak). "Ayo tiarap Nur, kita akan berangkat ke rumah orang tuaku ketika situasi telah aman".

            Lalu tentara kuda bersenjata lengkap itu lewat di hadapan mereka..

            "Hendak kmna mereka us??," (Nur bertanya berbisik kepada Uus).

            "pasti mereka akan mencoba mencari pengikut kanjeng Nabi, pengikut kanjeng Nabi berarti sudah menjadi musuh raja".

            "sepertinya mereka sudah jauh, bagaimana kalau kita berangkat ke rumah orang tuamu sekarang us, sebelum kondisi makin tak kondusif."

            "baiklah, kita jalan lewat goa ini saja, biar aman, ada jalan tembus ke rumah orang tuaku lewat goa ini, ayo Nur sebelum ada ketahuan pasukan raja yang sedang patroli".

            mereka berdua berjalan sembunyi-sembunyi melewati goa yang begitu gelap dan hanya di terangi oleh obor, Nur terlihat letih dan pucat, Uus menatap Nur, memandangi mata Nur yang sudah mulai agak merah, tetapi Nur tetap melemparkan senyum ke arah Uus seraya hanya sekedar ingin memastikan bahwa tidak ada apa-apa dan baik-baik saja.

              " Apa sebaiknya kita istirahat saja dulu Nur, nampaknya kamu sangat letih?"

            "Tidak usah, kita harus sudah sampai rumah ibu sebelum dzuhur".

            "tapi kamu tidak apa-apa?,"( bertanya Uus dengan perasaan khawatir).

              " Gusti Allah selalu memberikan nikmat sehatnya kepada kita, jangan khawatir."

            Nur selalu mencoba tersenyum dan tetap meyakinkan Uus atas keberadaan gusti Allah di tengah-tengah mereka, dia selalu terlihat kuat di depan Uus meskipun energinya sudah melemah, tetapi dia berusaha untuk tidak tersungkur dan tetap berjalan. keyakinan dia terhadap gusti Allah yang begitu besar membuat dia kuat.

            "Us kamu mau janji kan sama aku?? '

            "Janji apa Nur? aku akan selalu mencoba berada di samping kamu dan menjadi sahabat kamu Nur, saya janji itu..

            (Nur tersenyum kepada Uus dengan wajah pucatnya)," nanti akan saya beri tahu kalau sudah saatnya, tapi kamu janji ya mau mengikuti omongan saya".

            "Iya, saya janji'.


                                                            ********************

Sesampainya di rumah ibu Uus, suasana haru pun terjadi..

            Tok..tok ..tok "Assalamualaikum," Uus membuka kedatangannya lagi di rumah nya dengan salam.

            Tanpa menjawab salam dari Uus perempuan paruh baya dengan memakai selendang yang hanya menutupi payu darahnya membukakan pintu..

            " Apakah ini Uus anak ibu?? perempuan itu terkaget setelah melihat Uus..

            " iya ibu, ini Uus anak ibu, Uus kangen sama ibu".

            perempuan paruh baya yang diakui Uus sebagai ibunya itu langsung memeluk Uus dengan keras dan meluapkan kerinduannya karena selama 2 tahun dia tidak bertemu  dengan Uus di karenakan Uus pergi dari rumah karena iya ingin tetap konsisten pada ajaran kanjeng Nabi, jikalau dia menetap dengan atribut yg mengikuti kanjeng nabi, keselamatan dia terancam oleh raja. " Kamu kemana saja sayang, ibu rindu sama kamu?" .

            Nur yang menyaksikan itu tidak kuat untuk tidak mengeluarkan air matanya, sambil memeluk siti yang begitu kecil. Dia melihat Uus seperti dirinya, sempat ia bayangkan bahwa Uus itu dirinya yang sedang memeluk dan bermanja dengan ibunya yang telah di panggil gusti Allah,tapi dia tidak ingin larut dalam bayang-bayang itu, lalu ia menghela nafas dan berpikir sesuatu saat nanti ia akan bertemu ibu, ayah, dan kakak perempuannya di antara orang-orang yang di sayangi gusti Allah.

            " Ibu kenalkan ini Nur sahabat Uus, kami sama-sama anak jalanan dan melakukan berbagai pekerjaan berat demi lelangsungan hidup kami", Uus mengenalkan Nur kepada ibunya.

 "Nur,"( memperkenalkan dirinya ke ibunya Uus sambil mencium tangannya).

            "santun sekali kamu nak, apakah kamu juga pengikut kanjeng Nabi?".

            "InsyaAllah sampai kapanpun saya akan tetap menjadi pengikut kanjeng nabi.

            (Uus mencoba memotong  pembicaraan mereka) , “sudah-sudah mengapa ibu tidak membiarkan kami beristirahat terlebih dahulu!!”.

            “Ayo mari duduk, istirahatlah dulu disini, nanti ibu ambilkan minum




                                                ****************************
            “mana baim adik lelakiku yang dulu mungil bu? ( tanya uus sambil menatap ibunya).
            “adikmu, adikmu telah di bunuh oleh raja (jawab ibu sambil menangis memeluk uus).
            Teriak nur
            “ini tidak bisa di toleran lagi, kita harus ikut kanjeng nabi melawan raja, kita harus menjadi pengikut kanjeng nabi” (sambil berdiri).
            “tapi itu bahaya nak ( muka pucat dan takut ibu uus)
            “tidak ada yang lebih bahaya dari membiarkan kebodohan ini terus berlanjut, Allah subhana wa’ta ala akan selalu bersama kita dan melindungi kita dalam kondisi apapun, Dia tak akan pernah meninggalkan kita.


                                                            *************
Setelah lama sunyi lalu ada teriakan bersahut-sahutan, dan teriakan itu dari pengikut kanjeng nabi
            “ kanjeng nabi berlari ke arah lautan...kanjeng nabi ke arah lautan.. ayo kita ikut barisan kanjeng nabi jika ingin selamat.
Nur dengan segera menarik tangan uus dan keluarga untuk berlari ke arah lautan.
            “ayo kita selamatkan diri kita”.
            Mereka kini telah berada di barisan kanjeng nabi, dan raja beserta bala pasukannya terus mengejar,dan kanjeng nabi menggunakan tongkatnya secara mengejutkan bisa membelah lautan dan berjalanlah Ia beserta pengikutnya, dan raja beserta bala pasukannya terus mengejar,setelah kanjeng nabi dan para pengikutnya sudah sampai di ujung lautan di tutuplah lautan itu sehingga raja beserta bala pasukannya tenggelam .
            Setelah itu suasana menjadi haru, Uus dan keluarganya tidak luput ikut melepas haru dengan saling berpelukan. Sementara Nur, tetap menggendong siti, menatap matahari yang sinarnya menembak kedua lensa matanya.
            “MAHA SUCI ALLAH, YANG MAHA PENCIPTA, YANG MAHA MENGETAHUI SETIAP KEJADIAN, DIA YANG MEMULAI, DIA PULA YANG MEMBERI AKHIR”

0 komentar:

Posting Komentar