Menarik sekali melihat sengketa yang ternyata hingga sampai saat ini
'terpelihara' dengan baik. PDIP dan PKS, dua kutub partai yang dianggap
berlawanan. Bahkan bisa jadi cenderung terjadi saling bergesekkan
diantara kader satu sama lainnya.
Yah, ini semua sebenarnya sudah lama terjadi dan mungkin memang
'dipelihara' dengan baik oleh kubu Pdip. Kenapa langsung merujuk kepada
PDIP?
Masa pemilu 1999 menjadi awal pertama yang mencengangkan bagi Megawati.
Kenapa? Lantaran ia bingung dengan partai politik yang saat itu bernama
PK (Partai Keadilan) hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi PKS (Partai
Keadilan Sejahtera). Kebingungan Megawati terhadap PK saat itu adalah
massa Islam apa yang dibawa oleh partai tersebut?
Diantara saat itu ada PAN (Partai Amanat Nasional) bentukan Amein Rais
yang tentu sudah bisa diprediksi siapa saja massa yang ada di partai
tersebut. Begitu juga PKB, dengan Gus Dur-nya dan jelas massa apa yang
dibawanya. Tak terkecuali PPP, Masyumi, PBB, PBR dan masih banyak lagi
partai Islam lainnya.
Yang menjadi mengherankan adalah ternyata PK mampu mengeruk massa dengan
tak sedikit jumlahnya. Sekitar 1.436.565 suara didapatkan oleh PK waktu
tahun 1999. Ini sangat membingungkan kubu PDIP waktu itu.
Karena mungkin terlalu bingung, akhirnya beberapa statemen ‘nyeleneh’
dari PDIP terlontar untuk menyerang PK. Seperti partai teroris, partai
ke-arab-araban, dsbnya. Serangan oleh kubu PDIP waktu itu tidak dianggap
oleh PK.
Saat itu PK mendapatkan nomor urut 24 yang akhirnya mampu menunjukkan diurutan 10 besar partai pemanang pemilu tahun 1999.
Sebuah pernyataan suami dari Ketua Umum PDIP, almarhum Taufik Kiemas.
Ia pernah didaulat menjadi penceramah di RSIS (Rajartman School of
International Studies), di Singapura.
Taufik Kiemas dengan jelas menyatakan bahwa PKS merupakan kelompok
teroris yang membentuk partai politik. Dengan gamblang dan sangat jelas,
ia menyebutkan bahwa kaum nasionalis yang pluralis bersatu untuk
melawan PKS yang teroris dan anti pluralis.
Beruntung pernyataan Taufik Kiemas dalam ceramahnya di RSIS dapat
dibantah sendiri oleh Kader PKS yang ternyata juga ada yang kuliah di
RSIS tersebut, Suhud Alynudin. Malah akhirnya Taufik Kiemas terlihat
malu atas sanggahan dari kader PKS tersebut. Karena banyak para
mahasiswa yang ada di RSIS malah lebih mempunyai minat dengan jawaban
kader PKS tersebut dari pada Taufik Kiemas sendiri.
Tak hanya berhenti di Taufik Kiemas ternyata, pertarungan Pilgub Jabar
juga menjadi hal yang sangat perlu dilihat bagaimana kubu PDIP yang
seperti mempunyai dendam kesumat dengan PKS. Pihak PDIP, Rieke Diah
Pitaloka sampai harus mengucapkan dengan lantang bahwa Pemilihan Kepala
Daerah Jawa Barat bukan sekedar menang atau kalah, tetapi merupakan
pertarungan ideologi. Nahkan?
Ideologi apa yang dimaksud oleh Rieke? Apakah antara Ideologi marhaen,
liberal, sekuler dan komunis dengan melawan ideologi Islam?
Semakin kentara lagi ketika terjadi 'perang' di pilgub DKI Jakarta. Jika
kubu Jokowi-Ahok mempunyai pasukan Cyber yang memang dibayar untuk
melakukan berbagai aksinya. Menghina, melecehkan, menyerang, dsbnya.
Lawan-lawannya.
Di kubu PKS hanya mengandalkan kadernya yang melek dengan teknologi.
Pertarungan semakin sengit, antara akun palsu dengan akun yang
menampakkan diri ke ‘PKS’annya. Saling adu argumentasi bahkan tak jarang
ketika kubu Jokowi-Ahok kalah berargumentasi, segala macam caci-maki
kebun binatang dibawanya kedalam komentar.
Ini yang membuat sedikit kader PKS jadi ‘kaget’ karena kader PKS memang
tak pernah diajarkan untuk mencela atau mencaci orang, sehingga mereka
kadang langsung diam ketika di bully. Bukan bermaksud kalah atau menang,
tetapi tidak ingin meneruskan perbincangan yang sudah jelas tak sehat.
Namun juga tak sedikit kader PKS yang terus melayani, sehingga kadang
terseret juga dengan komentar-komentar kubu pendukung Jokowi-Ahok.
Kekalahan jago PKS, Hidayat Nurwahid yang berada di urutan ke-3 di
Pilgub DKI Jakarta. Bukan malah menciutkan kader PKS, tetapi terlihat
semakin antusias sekali untuk ‘meladeni’ kubu Jokowi-Ahok.
Sampai akhirnya beranjak ke Pilpres. Ketika Jokowi mencoba ingkari
janjinya sendiri untuk maju ikut dalam pemilihan presiden. Walaupun
kader PKS tidak maju dalam bursa Pilpres. Tetapi semangatnya mengalahkan
kader partai koalisi yang lain, ini terbukti bahwa seringkali di media
sosial, kubu Jokowi mengidentikkan siapa saja yang mereka anggap
menyerang Jokowi, maka itu dari PKS. Mereka melupakan bahwa ada
Gerindra, PAN, PPP, PBB dan Golkar dalam partai koalisi Merah Putih.
Jadi, sebenarnya tujuan kubu pendukung Jokowi sebenarnya sudah di dogtrin bahwa PKS-lah musuhnya.
PDIP Mendadak 'Ustad'
Jika dulu PDIP menganggap remeh suara Umat Islam, bahkan seringkali
menyerang PKS dengan ungkapan ‘Menjual Agama’ dalam politik. Ternyata
malah selangka demi selangkah di ikuti sendiri oleh PDIP.
Semangat mencoba merebut massa Islam dengan berbagai spanduk selamat
pada hari besar agama Islam yang pada tahun 1999 hanya PKS saja yang
melakukannya. Malah PDIP juga menginstruksikan untuk membuat
ucapan-ucapan serupa, walaupun ternyata juga ada yang salah kaprah.
Spanduk selamat bulan Ramadhan malah bertuliskan 1 Syawal, yang beberapa
kali bisa kita jumpai. Semangat tanpa ilmu kadang membuat orang lain
tersenyum geli.
Setelah membuat spanduk sudah, PDIP juga ‘latah’ membuat sebuah
organisasi sayap untuk umat Islam, yang bernama Baitul Muslimin. Baitul
Muslimin yang didirikan pada sekitar tahun 2007, hingga sekarang bahkan
ketua umumnya masih saja Hamka Haq. Mungkin ketua Baitul Muslimin ingin
mencontoh Megawati, yang terus memegang jabatan Ketua selamanya?
Lucunya, kiprah Baitul Muslimin PDIP ini tidak ada kecuali hanya satu.
Yaitu mengecam sikap MUI yang coba mendukung poros capres Islam. Ini
sungguh aneh, namanya saja Baitul Muslimin, tetapi dengan capres Islam
kok alergi. Kenapa?
Pantas jika Din Syamsuddin akhirnya keluar dari Baitul Muslimin PDIP,
karena ternyata hanya dijadikan kedok PDIP menjual agama saja!
"Saya memang pernah terlibat mendirikan Baitul Muslimin PDIP, cuma
sekarang perkembangannya tidak sebagaimana yang saya bayangkan," kata
Din di kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations,
Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta, Kamis, 18 Desember 2008.
Jika berkali-kali kubu PDIP selalu berkoar-koar terhadap PKS, bahwa
kader PKS menjual agama demi politik. Sikap langkah PDIP malah bukan
lagi sekedar menjual agama, tetapi sudah mencoba membohongi agama untuk
dipolitasasi.
Bila kader PKS, mereka memang membawa agama kedalam politik sesuai
dengan pemahaman mereka mengenai Islam itu sendiri. Sehingga jilbab dan
shalat serta politik yang cenderung Islami dikedepankan. Isu-isu syariat
Islam juga lebih terbuka, walaupun seringkali bahkan yang menyuarakan
mengenai isu syariat Islam bukan dari PKS. Melainkan dari partai Islam
yang lain.
Menjual Agama yang lebih menjurus pada membohongi agama untuk
dipolitisasi juga terlihat dari cara kampanye kubu Jokowi dan PDIP.
Ingat ketika kampanye Pilgub Jakarta? Sontak saja istri Jokowi yang
tidak berjilbab akhirnya berjilbab. Tetapi anehnya ketika setelah Jokowi
terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, jilbab istrinya pun ditanggalkan.
Jilbab istrinya kembali dipakai ketika kampanye Pilpres. Dengan
bangganya berbagai media memberitakan bahwa istri Jokowi memakai Jilbab.
Tetapi, sekali lagi itu semua hanya sekedar menjual agama, atau lebih
buruknya lagi sekedar membohongi agama untuk dijadikan alat politisasi
saja.
Pencitraan yang penuh dengan berbagai kebohongan sandiwara memang
disenangi oleh masyarakat kita menengah kebawah, atau oleh orang yang
berpendidikan tetapi sebenarnya buta politik.
Jadi, sebenarnya siapakah yang menjual agama hingga sampai membohongi agama untuk dibuat alat politisasi! PKS atau PDIP?
Jika seandainya PKS dianggap menjual agama, tentunya akan sangat banyak
lembaga pendidikan yang di rintis oleh kader PKS tidak akan laku di
masyarakat. Karena hanya sekedar menjual agama!
Tetapi ternyata tidak, bahkan ada kesaksian sendiri dari seorang kader
PDIP yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di Sekolah IT (Islam
Terpadu) daripada sekolah lainnya. Karena dianggap sekolah IT (Islam
Terpadu) bentukan kader PKS ini lebih baik dalam keagamaan dan
pendidikannya. "Saya sekolahkan anak saya disini mas, karena saya tahu
sekolah IT (Islam Terpadu) ini bagus, saya hanya berharap anak saya
tidak seperti saya.” ini kata salah satu kader PDIP di daerah.